Selasa, 05 April 2011

BUDIDAYA TANAMAN TEBU ( Saccharum officinarum ) 3

           Tebu (bahasa Inggris: sugar cane) adalah tanaman yang ditanam untuk bahan baku gula dan vetsin. Tanaman ini hanya dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Tanaman ini termasuk jenis rumput-rumputan. Umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai kurang lebih 1 tahun sehingga tergolong tanaman tahunan. Di Indonesia tebu banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Sumatra.
Untuk pembuatan gula, batang tebu yang sudah dipanen diperas dengan mesin pemeras (mesin press) di pabrik gula. Sesudah itu, nira atau air perasan tebu tersebut disaring, dimasak, dan diputihkan sehingga menjadi gula pasir yang kita kenal. Dari proses pembuatan tebu tersebut akan dihasilkan gula 5%, ampas tebu 90% dan sisanya berupa tetes (molasse) dan air.
Daun tebu yang kering (dalam bahasa Jawa, dadhok) adalah biomassa yang mempunyai nilai kalori cukup tinggi. Ibu-ibu di pedesaan sering memakai dadhok itu sebagai bahan bakar untuk memasak; selain menghemat minyak tanah yang makin mahal, bahan bakar ini juga cepat panas.Tidak hanya dadhok tetapi di daerah jawa timur Blotong ( ampas tebu ) juga dimanfaat kan untuk bahan bakar ( kayu bakar ). Daun tebu ( pucuk ) juga dimanfaatkan untuk makanan ternak oleh sebagian masyarakat pedesaan.
Klasifikasi ilmiah Tanaman Tebu
Kerajaan   : Plantae
Divisi         : Magnoliophyta
Kelas        : Liliopsida
Ordo         : Poales
Famili        : Poaceae
Genus       : Saccharum L.
SpeciesSaccharum arundinaceum
Saccharum bengalense
Saccharum edule
Saccharum officinarum
Saccharum procerum
Saccharum ravennae
Saccharum robustum
Saccharum sinense
Saccharum spontaneum
Gambar tanaman tebu

Surabaya, 28/10 (ANTARA) - Areal budidaya tanaman tebu diprediksi mengalami peningkatan pada musim 2010, seiring membaiknya harga gula lokal selama musim giling tahun ini.
Wakil Sekjen Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi) Adig Suwandi di Surabaya, mengemukakan anjloknya harga gula pada musim giling 2008, telah mengakibatkan luas areal budidaya tebu mengalami penurunan dari sekitar 450 ribu hektare menjadi 434 ribu hektare pada tahun ini, sehingga berdampak menurunkani target produksi 2,7 juta ton, menjadi sekitar 2,6 juta ton. Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi adalah dengan perluasan lahan dan penanaman varites tebu dengan persentase rendemen tinggi. Jika tidak memungkinkan maka alternatif pilihan paling akhir adalah dengan mengimpor gula, tetapi perlu dipertimbangkan bahwa dengan impor gula akan menghancurkan harga gula dalam negeri. Aneh tapi nyata jika luar negri ( Thailand ) dapat mengekspor gulanya yang jelas jelas harganya lebih murah dari harga gula dalam negeri, kenapa kita tidak bisa menirunya ya ....!!!!. Harga Gula dalam negeri Thailand tetap terjaga, pemerintah setempat membeli tebu petani dengan harga standart sehingga petani tidak dirugikan dan kelebihan produksi gula mereka ekspor salah satunya ya ke Indonesia. Hendaknya pemerintah meniru pemerintah Thailand yang bijaksana melindungi petani mereka, sehingga ketika ada Over Stok dilempar keluar yang tentu saja Pemerintah Thailand juga diuntungkan. Wah ..... itu perlu ditiru hai pengambil kebijakan Pemerintah Republik Indonesia yang terhormat.......... jangan hanya pandai dalam teory dan ujung-ujungnya petani yang dijadikan kambing hitam padahal kesalahan dalam pengambil kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir orang dekat mereka. Wah sungguh ironis negeri ini.... kasihan rakyat Indonesia termasuk kami .... he.... he....
Industri gula adalah salah satu industri bidang pertanian yang secara nyata memerlukan keterpaduan antara agribisnis dan agroindustri. Indonesia semula terkenal sebagai negara pengekspor gula yang cukup besar dan diperhitungkan di dunia, tetapi saat ini justru berubah menjadi negara pengimpor gula dalam jumlah cukup besar.
Impor gula tahun 2000 mencapai tidak kurang dari 1,5 juta ton untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Bahkan beberapa sumber menyatakan bahwa impor gula yang terjadi lebih besar dari angka resmi. Hal ini terjadi karena produksi gula dalam negeri hanya sekitar 1,69 juta ton.
Penurunan produksi gula di Indonesia merupakan suatu akibat dari proses yang kompleks, baik dari segi sosial, ekonomi, teknologi, dan kebijakan. Penanganan yang komprehensif diperlukan untuk mengatasi masalah produksi gula. Berbagai aspek dan berbagai kepentingan terlibat dalam proses penurunan produksi gula dalam negeri
Masuknya gula dari luar negeri dengan harga yang lebih rendah dari harga produksi dalam negeri menyebabkan produksi gula nasional kurang mampu bersaing. Rendahnya efisiensi teknik dan efisiensi ekonomi menyebabkan harga gula produksi dalam negeri menjadi mahal. Pulau Jawa yang semula sebagai sentral produksi gula nasional semakin bergeser dengan semakin sulitnya diperoleh lahan yang memadai untuk areal produksi tebu. Lahan yang memiliki sifat sesuai untuk tebu lebih banyak digunakan untuk komoditi lain yang lebih menguntungkan dibanding tebu. Kurangnya modal petani dan sering terlambatnya pencairan kredit semakin menambah rendahnya mutu penerapan teknologi tebu.
Rendahnya tarif impor gula yang menambah semakin terpuruknya produksi gula nasional. Gula impor membanjir justru pada saat petani sedang panen, dan pabrik sedang giling. Rendahnya tarif impor berkaitan dengan letter of intent yang dibuat IMF dengan pemerintah. Sebenarnya besarnya tarif impor ini masih mungkin ditingkatkan, seperti halnya negara lain yang juga terikat dengan IMF, dapat memasang tarif sampai 104%. Namun, dengan kondisi yang ada di Indonesia, pengenaan tarif impor yang tinggi dapat berdampak maraknya impor gula ilegal.
Persoalan gula memang dilematis mengingat produksi gula nasional baru mencapai 1,69 juta ton, sedangkan kebutuhan nasional mencapai 3 juta ton. Oleh sebab itu, kebijakan gula yang ada sekarang mungkin perlu dikaji ulang dan dilihat apakah masih sesuai dan berpihak pada petani dan melindungi industri gula nasional, karena selain melindungi petani tebu juga aset nasional yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.
Bagi lembaga keuangan yang selama ini memberikan dana pinjaman untuk industri gula memerlukan suatu “keamanan” modalnya, sehingga perlu diyakinkan bahwa uangnya akan kembali pada waktunya. Namun, sering terjadi ketidakjelasan berapa sebenarnya skala ekonomi minimum yang layak diberi pinjaman, sehingga hasilnya dirasakan oleh petani tetapi juga menguntungkan bagi pihak pemberi pinjaman. Data yang ada sering data yang dibuat berdasarkan asumsi teori yang kurang didasarkan pada kenyataan di lapangan sehingga dapat menimbulkan ketidakserasian antara modal dan kebutuhan.
Relokasi pabrik gula ke luar Jawa adalah salah satu alternatif yang dianggap tepat, tetapi pada kenyataannya tidak sesedehana yang dikonsepkan. Terbatasnya lahan dengan kelas kesesuaian untuk tebu saat ini tidak mudah. Berbagai penelitian bahwa efisiensi akan tercapai jika luas pertanaman mencapai 20.000 ha yang berarti pabrik menggiling dengan kapasitas 12.500 ton tebu per hari dan hari giling 150 hari. Menurut survei yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Tanah dan Iklim (Puslittanak) dan Pusat Penelitian Perkebunan Gula (P3GI) didapatkan bahwa areal potensial di luar Jawa yang dianggap sesuai untuk perkebunan tebu ± 1,2 juta hektar, dengan penyebaran Papua (817.000 ha), Maluku (63.000 ha), Riau (54.600 ha), Sumatera Utara (44.900 ha), Kalimantan Tengah (36.900 ha), dan Sulawesi Selatan (29.200 ha). Namun, dari luasan potensial ini perlu dikoreksi dengan penggunaan lahan saat ini (land use), yang diperkirakan lahan tersedia tidak lebih dari 50 persen. Persoalan relokasi lainnya adalah besarnya modal untuk membuka pabrik gula di luar Jawa. Sebagai gambaran, untuk sebuah pabrik gula dengan kapasitas 10.000 ton tebu per hari diperlukan dana sekitar $ 70 juta dolar atau senilai 10 kali pabrik pengolahan kelapa sawit dengan kapasitas 40 ton tandan buah segar per jam.
Menyiasati perubahan Iklim yang makin ekstrim
Perubahan iklim telah menjadi fenomena global yang tidak bisa dihindari lagi. Teori evolusi mengajarkan kepada kita, hanya makhluk hidup yang mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan lah yang dapat bertahan dan melangsungkan kehidupannya. Sebagai makhluk hidup yang diharapkan para pengelolanya mampu menghasilkan gula berlimpah melalui aktivitas fotosintesis, keberadaan varietas tebu unggul dan adaptif terhadap perubahan iklim sangat diperlukan.
Kalangan produsen gula sangat berkepentingan dengan riset untuk menghasilkan varietas dimaksud karena inilah kunci penyelesaian masalah dalam produksi. Perubahan iklim setidaknya menjadikan batasan antara kemarau dan penghujan makin kabur. Seperti sekarang, secara definisi Agustus masuk hitungan musim kemarau, tetapi ternyata masih turun hujan, bahkan di beberapa wilayah kerja PG PTPN XI dengan intensitas cukup besar. Lembaga riset seperti Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) terus didorong untuk melakukan riset ke sana dan segera menghasilkan agar dapat disebar ke lapangan. Tanpa riset varietas, masa depan industri gula akan suram.

VARIETAS TEBU
   Varietas tebu pada garis besarnya dapat dibedakan menjadi 3,yaitu:
1. Varietas Genjah (masak awal),mencapai masak optimal < 12 bulan.
2. Varietas Sedang (masak tengahan),mencapai masak optimal pada umur 12-14 bulan.3. Varietas Dalam (masak akhir),mencapai masak optimal pada umur lebih dari 14 bulan.
Jenis TebuMasak Awal(<12 bulan)Masak Tengah
(12-14 bulan)
Masak Akhir
(>14 bulan)
BZ 132
PS 57
PS 59
PS 58
PS 56
BZ 148
POJ 3016
PS 41
BL
POJ 2878
PS-86-2
PS-86-10029
PS-88-19432
PS-86-1
             XXX
XXX
            XXX
XXX
XXX
XXX
XXX

 XXX
XXX
Varietas yang diunggulkan saat ini adalah BL,yang mirip dengan varietas POJ-2878. Kedua varietas ini tahan terhadap penyakit mosaic dan tahan blendok,namun BL agak peka pohkabung dan serangan hama penggerek pucuk. Potensi produktivitas varietas BL ini bias mencapai rata-rat 121,4 kuintal gula per hektar dan hasil hablur tertinggi yang bisa dicapai adalah 169,2 kuintal per hektar.
Dengan varietas BL ini,potensi pada lahan sawah dengan ekologi unggulan,produksi tebu rata-rata 1.504 kuintal per hektar (tertinggi 2.093 kuintal),rendemen rata-rata 8,07 persen (tertinggi 8,86 persen) dan produksi hablur rata-rata 121,4 kuintal per hektar (tertinggi 169,2 kuintal).
Ujicoba pada lahan tegal pun menunjukkan hasil tebu rata-rata 1.250 kuintal per hektar (tertinggi 2.112 kuintal),rendemen rata-rata 7,58 persen (tertinggi 8,25 persen),dan hasil hablur rata-rata 97,3 kuintal per hektar (tertinggi 172,3 kuintal).Bahkan pada pola keprasan,varietas BL juga menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan. Dari uji coba dihasilkan tebu rata-rata 1.222 kuintal per hektar (tertinggi 2.012 kuintal),rendemen rata-rata 7,81 persen (tertinggi 8,74 persen),dan hasil hablur rata-rata 94,5 kuintal per hektar (tertinggi 152,1 kuintal)
Jenis Lahan
Produksi tebu rata2
(kuintal per hektar)
Rendemen rata2

Hasil Hablur rata2
(kuintal per hektar)
Sawah
1.504 (max. 2.093)
8,07 % (max. 8,86 %)
121,4 (max. 169,2)
Tegal
1.250 (max. 2.112)
7,58 % (max. 8,25 %)
  97,3 (max.   97,3)
Pola Keprasan
1.222 (max. 2.012)
7,81 % (max. 8,74 %)
  94,5 (max. 152,1)
Bibit tebu yang digunakan harus berkualitas baik. Budidaya tebu bibit diusahakan melalui beberapa tingkat kebun bibit yaitu berturut-turut dari Kebun Bibit Pokok (KBP), Kebun Bibit Nenek (KBN), Kebun Bibit Induk (KBI), dan Kebun Bibit Datar (KBD). Dengan penanaman secara bertingkat tersebut, kualitas bibit yang hendak ditanam di Kebun Tebu Giling (KTG) menjadi lebih baik karena dari satu tingkat kebun bibit ke tingkat berikutnya mengalami proses seleksi.
Potensi Hasil Beberapa Varietas Tebu Unggul
NO
VARIETAS/ GALUR
RENDEMEN ( % )
HASIL
( Ton / ha )
1POJ 3016
14
150
2PS 86-10029
9
140
3PS 92-3092
9
140
4Triton
9
125
5BZ 148
9
120
6PS 81-1321
9
120
7BZ132
9
80
8PS 89-20961
9.5
140
9PS MD 7
9.5
130
10PS 85-21470
9.5
120
11PS 88-19432
9.5
120
12PS 85-18135
9.5
105
                           Sumber : P3GI (diolah) 
Jenis tebu yang sering ditanam POY 3016, P.S. 30, P.S. 41, P.S. 38, P.S. 36, P.S. 8, B.Z. 132, B.Z. 62, dll.
Meskipun pengembangan tebu di wilayah Indonesia Timur relatif baru, namun PT PG Gorontalo berhasil menemukan klon-klon baru dan akan diusulkan untuk dilepas sebagai benih bina.
PT PG Gorontalo merupakan salah satu Pabrik Gula (PG) di wilayah Sulawesi dan satu-satunya di Propinsi Gorontalo. PG tersebut, selain membangun kebun produksi untuk menghasilkan gula, juga aktif melakukan pemuliaan untuk menghasilkan klon-klon unggul bermutu. Tiga varietas temuannya dengan nama GTO 1, GTO 2 dan GTO 3 akan diusulkan agar dilepas sebagai benih bina.
PT PG Gorontalo tengah melaksanakan observasi terkait pengumpulan data untuk menyusulan proposal bagi pelepasan varietas. Pelaksanaan orientasi varietas telah dimulai sejak tahun 2007 di 3 (dua) lokasi, yaitu, Saripi dan Gandaria. Dari hasil penelitian diharapkan diperoleh data dengan produksi, kualitas keprasan dan ketahanan terhadap cengkraman lingkungan dan serangan organisme penganggu tanaman.
Berdasarkan hasil observasi tersebut diketahui jika GTO 1 termasuk dalam tipe masak awal sampai tengah. Pada panen tahun pertama produksi tebu giling (TG) GTO 1 bisa mencapai 91,24 ton/ha tebu giling (TG). Sedangkan GTO 2 masuk ke dalam golongan masak awal, dengan produksi mencapai 90,53 toh/ha tebu giling (TG). Dan GTO 3 masak awal dengan potensi produksi tebu giling (TG) 74,07 ton/ha.
Untuk panen pada tahun ke-2, GTO 1 diperoleh hasil 77,40 ton/ha tebu giling (TG), GTO 2 74,85 ton/ha tebu giling (TG) dan GTO 3 79,11 ton/ha tebu giling (TG). Sedangkan pada tahun ke 3 menurun menjadi 51,42 tebu giling (TG) dan 51,58 dan 47,42 ton/ha tebu giling (TG).
Berbeda dengan varietas yang banyak ditanaman di Pulau Jawa seperti PS 80-1649, PS 79-208 yang mengalami puncak produksi pada tahun ke-2, GTO cenderung mengalami produksi tertinggil pada panen pertama. Menariknya untuk panen tahun pertama produksi GTO 1 dan 2 melampau produksi Bulu Lawang yang ditanaman di lokasi yang sama dengan GTO yakni 57,31 ton/ha tebu giling (TG) .
Disamping potensi produksi yang unggul, jenis GTO memiliki ketahanan terhadap OPT utama tebu, salah satunya penggerek tebu. Dimana ketahananan terhadap hama menjadi salah satu indikator untuk menentukan unggul tidaknya sebuah varietas.
PT PG Gorontalo telah mengusulkan ketiga varietas ini sebagai benih bina. Jika dilepas diharapkan PG. Gorontalo dapat memenuhi kebutuhan benih petani tebu di wilayah Timur khususnya di Propinsi Gorontalo.
Bibit tebu yang baik adalah bibit yang berumur cukup (5 – 6 bulan), murni (tidak tercampur dengan varietas lain), bebas dari hama penyakit dan tidak mengalami kerusakan fisik.Pada umumnya komposisi kebutuhan bibit dari Kebun Bibit Datar (KBD) untuk Kebun Tebu Giling (KTG) adalah 1 : 8 yaitu dari 1 ha KBD dihasilkan bibit tebu yang cukup untuk 8 ha KTG untuk lahan sawah dan 1 : 3 untuk lahan kering.
Pada dasarnya pengelolaan kebun bibit hampir sama dengan kebun tebu giling dari pengolahan tanah hingga panen (tebang). Pada kebun bibit tidak dilakukan pengkletekan dengan tujuan untuk mengurangi penguapan setelah ditebang dan melindungi mata tunas baik pada masa pemeliharaan maupun pada saat pengangkutan. Dosis pupuk yang dipakai umumnya adalah 800 kg ZA, 200 kg SP-36, 200 kg KCl tiap ha
Budidaya tebu yang paling sesuai adalah budidaya tebu yang menyesuaikan dengan kondisi agroklimat, yaitu iklim, kesuburan tanah dan tofografi. Selain itu, keberhasilan budidaya tebu ditentukan pula oleh penggunaan sarana pendukung seperti tenaga kerja dan penggunaan peralatan yang akan menunjang pengelolaan pertanian berkelanjutan. Lebih spesifik lagi, keberhasilan penyesuaian budidaya tebu ditentukan oleh kesesuaian tebu terhadap kondisi iklim, kesesuaian tebu terhadap kesuburan tanah, kesesuaian pengelolaan tebu dengan tofografi, kesesuaian pengelolaan tebu berdasarkan keterbatasan tenaga, sehingga mengharuskan penerapan peralatan mekanisasi dan kesesuaian tebu menuju pertanian berkelanjutan.
Berdasarkan kebutuhan air pada setiap fase pertumbuhannya, curah hujan bulanan ideal untuk pertanaman tebu adalah 200 mm / bulan pada 5-6 bulan berturut - turut, 125 mm/bulan pada 2 bulan transisi dan kurang 75 mm / bulan pada 4 - 5 bulan berturut-turut. Menurut tipe iklim Oldeman, zona yang terbaik untuk tanaman tebu adalah tipe iklim C2 dan C3. Dalam pengembangannya ke lahan kering selain kedua tipe iklim tersebut ada beberapa lahan dengan tipe iklim yang dapat diusahakan untuk tebu dengan masukan-masukan teknologi adalah B2, C2, C3, D2, E3. Lahan yang dapat dikembangkan untuk pertumbuhan tebu dengan tanah cukup ringan dan berdrainase baik B1, C1, D1 dan E1.Kemasaman tanah (pH) yang terbaik untuk tanaman tebu adalah pada kisaran 6,0 – 7,0 namun masih dapat tumbuh pada kisaran pH 4,5 - 7,5. Kesuburan tanah (status hara), berdasarkan hasil penelitian P3GI untuk menentukan kesesuaian lahan bagi tanaman tebu dengan kriteria N total > 1,5, P2O5 tersedia > 75 ppm, K2O tersedia > 150 ppm dan kejenuhan Al <> 4 bulan, masa tanam yang optimal pada akhir musim kemarau sampai awal musim hujan yaitu pertengahan Oktober sampai dengan masa tanam juga dapat pada akhir musim hujan sampai awal musim kemarau (pola II) dengan kondisi tanah ringan, ngompol dapat diolah sepanjang musim. Pada daerah basah (bulan kering = 2 bulan) masa tanam tebu terbaik pada awal musim kemarau.
Secara garis besar budidaya tebu dapat dibagi menjadi dua sistem, yaitu reynoso dan tebu lahan kering. Sistem reynoso digunakan pada lahan sawah yang pelaksanaannya sebagian besar secara manual. Sedangkan tebu lahan kering teknik budidaya dilakukan secara mekanisasi dan pengairannya sangat tergantung dari curah hujan atau suplisi air hanya di saat periode kritis. Kedua sistem tanam tersebut diatas akan kami ulas panjang lebar disini.
Budidaya Tebu Lahan Kering :

Persiapan Lahan 
Persiapan lahan merupakan kegiatan untuk mempersiapkan tanah tempat tumbuh tanaman tebu sehingga kondisi fisik dan kimia tanah menjadi media perkembangan perakaran tanaman tebu. Kegiatan tersebut terdiri atas beberapa jenis yang dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan kronologis.
Pada prinsipnya, persiapan lahan untuk tanaman baru (PC) dan tanaman bongkaran baru (RPC) adalah sama tetapi untuk PC kegiatan persiapan lahan tidak dapat dilaksanakan secara intensif. Hal tersebut disebabkan oleh tata letak petak kebun, topografi maupun struktur tanah pada areal yang baru dibuka masih belum sempurna sehingga kegiatan mesin/peralatan di lapang sering terganggu. Pada areal tersebut masih terdapat sisa – sisa batang/perakaran yang dapat mengganggu operasional mesin di lapang. Petak dibuat dengan ukuran 200 m x 500 m (10 ha) yang dibatasi oleh jalan produksi dan jalan kebun.
Pembajakan 
Pembajakan I bertujuan untuk membalik tanah serta memotong sisa – sisa kayu dan vegetasi awal yang masih tertinggal. Peralatan yang digunakan adalah Rome Harrow 20 disc dengan diameter 31 inci yang ditarik dengan Bulldozer 155 HP. Awal kegiatan pembajakan dimulai dari sisi petak paling kiri, kedalaman olah mencapai 25 – 30 cm dan kapasitas kerja mencapai 0,8 jam/ha sehingga untuk satu petak kebun (± 10 ha) dibutuhkan waktu 8 jam mesin operasi. Pembajakan dilakukan merata di seluruh areal dengan kedalaman diusahakan lebih dari 30 cm dan arah bajakan menyilang barisan tanaman tebu sekitar 450.
Pembajakan II dilaksanakan sekitar tiga minggu setelah pembajakan I dengan arah memotong tegak lurus hasil pembajakan I dan kedalaman olah minimal 25 cm. Peralatan yang digunakan adalah Disc Plow 3 – 4 disc diameter 28 inci dan traktor 80 – 90 HP.
Bakar Sampah 
Kegiatan bakar sampah bertujuan untuk mempermudah operasional peralatan di areal bekas tebangan Bundled dan Loose Cane. Jika pengolahan tanah pertama menggunakan Rome Harrow, maka kegiatan ini tidak perlu dilakukan. Pembakaran sampah dilaksanakan setelah sampah kering dan arah bakaran harus berlawanan dengan arah angin. Kapasitas kerja tergantung pada ketebalan sampah. Sampah tebal bekas tebangan Bundled Cane (hijau) adalah 0,15 HK/ha dan sampah tipis bekas tebangan Bundled Cane (bakar) adalah 3,00 HK/ha.
Penggaruan 
Penggaruan bertujuan untuk menghancurkan bongkahan – bongkahan tanah dan meratakan permukaan tanah. Penggaruan dilaksanakan merata pada seluruh areal dengan menggunakan alat Baldan Harrow yang ditarik oleh traktor 140 HP.
Pada areal RPC, tujuan penggaruan adalah untuk menghancurkan bongkahan – bongkahan tanah hasil pembajakan, mencacah dan mematikan tunggul maupun tunas tanaman tebu. Penggaruan dilakukan pada seluruh areal bajakan dan menyilang dengan arah bajakan. Traktor yang digu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar