Selasa, 05 April 2011

Hama Penggerek Pucuk Tebu dan Teknik Pengendaliannya

Produksi gula nasional Indonesia mengalami kemerosotan sangat tajam dalam 
tiga dasawarsa terakhir. Kemerosotan ini menjadikan Indonesia yang pernah menjadi 
produsen gula sekaligus eksportir gula, berubah menjadi importer gula terbesar.   
Mempertahankan prestasi memang lebih sulit daripada mencapai prestasi, ya itulah 
kenyataannya sekarang, rata-rata impor setiap tahun mencapai 1,5 juta ton atau setara 
dengan  1 trilyun (Anonymous, 2009). 
Kebutuhan pengadaan gula ke depan akan semakin berat mengingat 
banyaknya lahan sawah subur yang dikonversi untuk kepentingan non pertanian dan 
jumlah penduduk yang semakin bertambah. Di lain pihak laju pertambahan 
produktivitas tanaman tebu semakin menurun yang disebabkan iklim yang kurang 
mendukung, dan serangan berbagai hama dan penyakit.   
Luas areal  tanaman tebu di Indonesia pada tahun 2008 mencapai 436.500 ha 
dengan produksi gula nasional sebesar 2.668.427 ton (Ditjenbun, 2008-2009), 
sedangkan total serangan penggerek pucuk tebu di Propinsi  Jawa Barat  dan Jawa 
Timur yang dilaporkan mencapai 111,982.08 ha dan kerugian hasil diperkirakan 
mencapai Rp.163.531.890 (Ditjenbun, 2008-2009). 
Kerugian gula yang disebabkan oleh hama tebu di Indonesia ditaksir sebesar 
15%. Lebih dari 100 jenis binatang dapat mengganggu dan merusak tanaman tebu di 
lapangan. Namun hanya beberapa diantaranya yang sering merusak dan menimbulkan 
kerugian seperti serangga hama penggerek batang, penggerek pucuk, dan tikus, 
meskipun demikian jenis-jenis lain tetap memiliki potensi untuk hama.  
Penggerek Pucuk Tebu, Hama Apakah Itu?? 
Hama penggerek pucuk tebu menurut Kalshoven, 1981 diklasifikasikan Phyllum  
Arthropoda, Kelas Insecta,  Bangsa Lepidoptera, Suku Pyralidea, Marga Scirpophaga, 
Jenis  Scirpophaga nivella 
Scirpophaga nivella Fabricus meletakkan telurnya pada bagian bawah 
permukaan daun secara berkelompok, dan tersusun seperti sisik ikan yang tertutup 
selaput berwarna coklat kekuningan. Jumlah telur mencapai 6-30 butir. Setelah 8-9 
hari telur menetas. 
Ulat yang keluar dari telur menuju daun yang masih  muda dengan cara 
menggantung pada benang-benang halus yang dikeluarkan dari mulutnya. Larva akan 
menggerek daun dan menuju ibu tulang daun, larva menggerek menuju titik tumbuh 
batang dan menembus batang. Setiap batang berisi satu ekor penggerek (Kalshoven 
1981). Ulat tersebut pada umur muda berwarna kelabu, kemudian berubah berwarna 
kuning kecoklatan dan pada saat mendekati stadium pupa berwarna kuning putih. 
Stadium pupa calon betina 8-10 hari dan calon jantan 10-12 hari. Kupu-kupu 
betina sudah dapat bertelur sehari setelah keluar dari kepompong kupu-kupu 
mempunyai warna sayap dan punggung putih dengan jambul berwarna merah. Siklus 
hidup penggerek betina 48-58 hari dan jantan 50-56 hari (Handjojo, 1976). 
Gejala Serangan 
Gejala serangan pada helai daun terdapat lubang melintang dan ibu tulang daun 
terlihat bekas gerekan berwarna coklat. Daun yang terserang akan menggulung dan 
kering yang disebut mati puser. Apabila batang dibelah maka akan kelihatan lorong 
gerekan dari titik tumbuh ke bawah kemudian mendekati permukaan batang dan sering 
menembus batang. Oleh karena itu serangan penggerek pucuk dapat menyebabkan 
kematian. Pada ruas batang yang muda yaitu di bawah titik tumbuh terdapat lubang 
keluar ngengat (Djasmin, 1984). 
Faktor yang Mempengaruhi Kehidupan Hama Penggerek Pucuk 
1. Teknik bercocok tanam 
Waktu tanam yang tidak serentak merupakan kondisi yang baik bagi perkembangan 
populasi hama penggerek pucuk tebu. Tebu yang ditanam lebih awal bisa menjadi 
sumber investasi hama penggerek pucuk bagi tanaman tebu yang ditanam berikutnya. 
Tebu yang ditanam awal merupakan inang (host) bagi penggerek pucuk dalam 
memenuhi kebutuhan makan, tempat tinggal dan berkembang biak. Akibatnya akan 
diperoleh sumber serangan yang besar dan sangat berpotensi untuk merusak tebu 
yang ditanam berikutnya. 
2. Tanaman inang 
Sifat morfologi dan anatomi tebu mempunyai korelasi dengan serangan penggerek 
pucuk (Anonymous, 1995). Tebu dengan tulang daun yang keras atau tulang daun 
dengan banyak lekukan pada epidermis bagian bawah lebih tahan terhadap serangan 
hama penggerek pucuk. Kekerasan pupus dapat mengurangi serangan hama 
penggerek pucuk. Kemampuan menyerang penggerek pucuk juga dipengaruhi oleh 
umur tanaman. Penggerek pucuk umumnya menyerang tanaman muda berumur lebih 
kurang 2 bulan.  3. Faktor lingkungan 
Tingkat serangan penggerek pucuk pada tanaman tebu  di lapang lebih banyak 
dipengaruhi oleh tinggi rendahnya curah hujan daripada jenis tebu. Semakin tinggi 
curah hujan serangan penggerek pucuk cenderung meningkat ( Wiriatmojo, 1978). 
Curah hujan yang tinggi meningkatkan kelembapan tanah dan merupakan tempat yang 
sangat baik untuk pengembangannya. 
4. Faktor musuh alami 
Keberadaan musuh alami di lapang juga mempengarungi populasi hama, musuh alami 
yang dapat mengendalikan hama penggerek pucuk adalah parasit  Trichogramma. 
Kerugian akibat serangan penggerek pucuk yang terjadi pada 1 s/d 5 bulan sebelum 
tebang menyebabkan rendemen gula berkurang 15-77% ( Anonymous, 1989). 
Pengendalian Hama Penggerek Pucuk Tebu 
Dengan kondisi luas serangan yang merata di seluruh Indonesia, maka strategi 
pengelolaan hama penggerek pucuk tebu yang paling tepat adalah dengan 
Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Teknik Pengendalian Hama Terpadu yang dapat  
diterapkan diantaranya: 
Pengendalian mekanis 
Pengendalian mekanis dapat langsung dilakukan pada saat melakukan pengamatan di 
kebun yaitu dengan memungut atau mengambil telur atau kelompok telur, larva atau 
ulat atau pupa  atau serangga dewasa pada bagian tanaman yang terserang secara 
langsung dan membunuhnya. 
Pengendalian Kultur Teknis atau Budidaya 
1) Pengendalian dengan cara kultur teknis atau budidaya dapat dilakukan dengan 
cara Penggunaan bibit unggul,  
2) Penggunaan pupuk berimbang yang sesuai dengan jenis, dosis, waktu dan 
cara pemakaian yang dianjurkan 
3) Pengaturan pola tanam  
4) Penanaman serentak 
5) Pengaturan jarak tanam   
6) Pergiliran tanaman Pengendalian Hayati atau Biologis 
a. Konservasi musuh alami 
Konservasi musuh alami merupakan cara yang paling murah dan mudah 
dilakukan oleh petani baik sendiri atau berkelompok. Konservasi musuh alami 
merupakan usaha kita untuk membuat lingkungan kebun disenangi dan cocok 
untuk kehidupan musuh alami terutama kelompok predator dan parasitoid. 
b. Pelepasan musuh alami 
Pelepasan musuh alami dilakukan dengan mencari atau mengumpulkan musuh 
alami dari tempat lain, kemudian langsung dilepas di kebun yang dituju. Musuh 
alami hama penggerek pucuk  berupa parasit telur dan parasit larva. Parasit 
telur misalnya Trichogramma japonicum, sedangkan parasit larva misalnya lalat 
jatiroto. 
Pengendalian Kimiawi 
Aplikasi insektisida kimia hanya dilakukan jika persentase serangan hama 
penggerek pucuk dengan kategori serangan berat sudah mencapai 40 %. Jenis 
insektisida yang dianjurkan adalah golongan karbamat, antara lain Karbofuran 
(Furadan 3G), Kalbosulfan (Matrix 200EC), Imidakloprid ( Wingran 0,5G). 
konsentrasi yang digunakan sesuai rekomendasi yaitu antara 1-2 ml/l atau 10-
12kg/Ha. 
Dengan melakukan kegiatan perlindungan yang dimulai sejak pengenalan 
hama, pengamatan agro-ekosistem secara teratur, analisis hasil pengamatan 
agroekositem, pengambilan keputusan, tindakan berbagai teknik pengendalian yang 
dilakukan secara terpadu dan kompatibel, dan evaluasi dari setiap tahap kegiatan 
perlindungan tanaman maka diharapkan upaya peningkatan produksi gula menuju 
swasembada gula dapat tercapai. Insya Allah Indonesia akan menjadi kiblatnya Gula 
dunia.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar